KETIKA HIDUP MENJADI TANGGUNG JAWAB SENDIRI
Dokter Senior Yang Melayani
"Silahkan masuk Pak". Sapa asisten dokter ketika aku masuk ke ruangan itu.
"Ada keluhan apa Pak?" Sahutnya lagi.
"Ini mba, Saya sudah beberapa hari ini pusing dan lemas, selain itu juga batuk pilek". Jawabku kepadanya.
" Oh.. Baik Pak, bisa pinjam KTPnya Pak? "
Aku pun kemudian membuka dompet mengambil KTP dan segera menyodorkan kepada asisten dokter tersebut.
"Baik Pak, saya cek tensinya dulu ya".
Asisten dokter tersebut kemudian memasang alat pengukur tensi dan mencatatnya.
" Normal Pak, suhu badan juga baik, silahkan masuk ke ruangan untuk bertemu dengan dokter".
Aku pun bangkit dan masuk ke ruangan mengekor asisten tersebut yang mengantarkan catatannya untuk disampaikan ke dokternya.
"Misi dok". Sapaku ke seorang dokter wanita yang di ruangan itu.
" Mari Pak, silahkan ". Dokter tersebut kemudian melihat catatan yang diberikan asistennya.
" Pak Tarto rumahnya Tembalang ya, wah.. Jauh sekali periksanya sampai ke sini!?" Timpal dokter itu.
Ya.. Posisi alamat dokter tersebut di Daerah Semarang Utara/bawah yang memang jauh dari tempat tinggal ku. Dari Tembalang [Semarang Selatan/atas] perjalanan ke sana membutuhkan waktu kurang lebih 20-25 menitan dalam keadaan jalan lancar.
Bukan tanpa alasan aku memilih dokter itu. Pasalnya rujukan yang ada di BPJS kesehatan dari kerjaanku mengarahkanku ke sana.
Aku berpikir, aku punya fasilitas dan layanan kesehatan dari kerjaan yang setiap bulan memotong bayaranku. Selama ini Alhamdulillah belum pernah kugunakan. Di saat kurang fit begini, sebaiknya kumanfaatkan saja. Maka meluncur lah pagi itu aku ke dokter tersebut.
"Pindah saja ke dokter yang lebih dekat Pak, kasihan jauh kalau ke sini". Sambung dokter itu lagi.
"Begitu ya Bu". Jawabku mencoba memahami perkataan dokter tersebut.
" Iya Pak, mudah kok, gunakan aplikasi JKN, tinggal isi"
"Oh, iya Bu". Sahutku.
"Saya tidak khawatir kehilangan pasien Pak, wong saya juga sudah cukup, hidup saya sekarang saya gunakan untuk pengabdian, apa yang saya cari, semua saya sudah punya, umur saya juga sudah tidak muda lagi". Timpal dokter itu.
"Subhanallah, tidak banyak yang bisa seperti ibu, Ibu orang baik yang sangat membantu dan dibutuhkan masyarakat". Kataku ke dokter itu.
Jika dilihat fisiknya, usia beliau memang sudah senior. Masih tampak raut bekas kecantikkannya di masa muda dulu. Dia juga tampak fit meski badannya tidak tegap lagi.
"Baik Bu, Terima kasih saran baiknya" Jawabku.
"Sekarang apa yang dirasakan Pak, jauh-jauh datang ke sini? " Tanya dokter itu.
"Ini Bu, kepala saya pusing, badan lemas, batuk kering, dan demam juga"
"Ini dicek suhunya normal begitu Pak" Sanggah dokter sambil melihat catatan dari asistennya.
Mungkin demamku mereda karena sebelum berangkat aku sudah minum obat yang kubeli dari warung sebelah pondok.
Memang beberapa hari ini aku merasa badan kurang nyaman, mudah lelah, badan agak linu sakit semua, selain itu juga mudah mengantuk. Aku pikir itu karena kecapean karena beberapa hari sebelumnya aku memang sedang ada kegiatan dan kurang tidur. Jadi kuanggap sakitku karena itu.
Kucoba minum multivitamin, obat-obatan dari warung, minum jamu juga, namun hingga hari ke 5 kesehatan rasanya masih naik turun. Enak sebentar, kambuh lagi. Hingga akhirnya kuputuskan untuk periksa ke dokter.
"Kalau dilihat gejalanya njenengan covid Pak, saya sarankan setelah ini Njenengan tes ya".
Mendengar hal tersebut aku jadi berfikir. "ah yang bener?" Kataku dalam hati.
"Mba, tolong ambilkan obat bla bla bla.. Kasih dosis sekian, kasih yang isi 8, kasihan rumahnya jauh". Pinta dokter itu ke asistennya.
Bla bla bla itu karena aku ngga inget dan jelasnya ngga paham apa yang diucapkan dokter tersebut ke asistennya. Hehehe.
Asisten itupun mengambilkan obat yang diresepkan oleh dokter.
"Diminum 3 X sehari ya Pak, nanti langsung tes saja karena gejalanya mengarah ke covid, semoga segera sehat Pak".
"Baik Bu, Terima kasih"
Akupun keluar dari ruangan dokter itu.
"Permisi ya Mba". Pamitku ketika melewati para asisten dokter didepan.
"Nggih Pak". Sahut asisten tersebut sambil tersenyum dibalik maskernya.
Aku pun keluar dan mendorong motorku mundur. Kutengok kanan kiri memastikan aman tidak ada kendaraan yang lewat.
"Srockkkghhh, dugkh". Terdengar dari sampingku suara tidak biasa.
Duh, ternyata ketika aku mundur motorku menyenggol bodi mobil yang parkir di depan rumah dokter tersebut. Knalpotku mengenai bagian samping bawah bodi mobil berjenis city car itu. Tampak goresan putih di bodi mobil.
"Wah" Gumamku dalam hati. Misal aku langsung jalan saja tidak akan ada yang tahu nih, aman. "Tapi tidak, tidak seperti itu Tarto, kamu lelaki yang bertanggung jawab. Ingat, segala sesuatu akan kembali ke diri lagi". Bisik hatiku kala itu.
Akupun menepikan motorku lagi. Kemudian aku masuk dan bertanya ke asisten dokter tadi.
"Misi mba, nuwun sewu, mobil di depan punya siapa nggih? Punten, saya kurang Hati-hati sehingga ketika mundur menyenggol mobil dan lecet"
Tampak asisten tadi saling pandang dengan temannya yang saat itu memang ada 2 orang di situ.
"Sebentar Pak, saya bilangkan ke Beliau".
Terdengar asisten tersebut bicara dengan dokter menjelaskan kejadianku. Tidak berapa lama keluarlah seorang wanita, tapi bukan dokter yang memeriksaku tadi. Badannya lebih mungil. Tampaknya dia masih saudara dari dokter itu.
" Ya Pak, pripun wau?" [Ya Pak, bagaimana?] Tanya ibu itu kepadaku sambil berjalan menghampiri mobilnya.
"Punten Bu, saya kurang hati-hati sehingga ketika mundur mengenai mobil ibu". Jawabku sejujurnya.
Ibu itu memandangku sejenak, kemudian berkata " Terus pripun Pak? [Lalu bagaimana pak? ]
"Saya mengaku salah Bu, saya siap mempertanggung jawabkannya. Monggo dibetulkan habisnya berapa akan saya ganti". Jawabku agak deg-degan khawatir ibu itu marah besar.
Ibu itu kembali memandangku sejenak dan tampak berpikir.
"Saya mengaku salah Bu, pangapunten". Kataku lagi kepadanya.
" Sampun Pak, monggo ditilar mawon, tidak apa-apa". [Sudah pak, silahkan ditinggal saja tidak apa-apa]
Aku mendengar hal tersebut agak tidak percaya bercampur senang.
"Tapi Bu? ". Sahutku
"Sampun Pak, bapak sudah mengakuinya, tidak apa-apa, besok lagi lebih berhati-hati, jangan diulangi" .
Subhanallah.
"Pangapunten nggih Bu..Matur nuwun sanget.. Semoga Allah mengganti dengan rejeki yang lebih banyak".
"Aamiin Pak, monggo silahkan lanjutkan perjalanannya. Hati-hati dijalan".
"Terimakasih Bu, pareng".
Aku pun pamit dan melaju kendaraanku ke pondok. Dijalan akupun merenungi kejadian tadi. "Kok bisa ya". Hatiku terus bertanya-tanya akan peristiwa itu.
Klinik Yang Nyaman
"Assalamu'alaikum". Tanyaku pada penjaga klinik.
"Wa'alaikum salam, mari Pak, ada yang bisa kami bantu? " Jawab penjaga klinik.
"Saya mau tes SWAB antigen Mba". Kataku padanya.
"Baik Pak, bisa minta KTP dan nomer hapenya Pak? "
"Ya Mba".
Setelah beberapa saat wanita cantik berhijab itu memanggilku sambil menyerahkan Identitas dan berkata " Silahkan bapak menunggu disamping untuk tesnya".
"Yang di parkiran motor itu Mba?" Kataku memastikan.
"Betul Pak, silahkan kesana nanti dokternya akan kesana"
"Baik Mba, Terima kasih"
Akupun segera ke ruangan yang dimaksud penjaga itu. Disana memang ada dua bilik kaca dan aku pun masuk ke salah satunya.
Tidak berapa lama seorang perempuan berpakaian medis menghampiriku. Tampaknya dia adalah dokter yang dimaksud penjaga tadi.
"Bapak yang akan tes SWAB antigen ya?" Tanyanya padaku.
"Benar Bu"
"Baik Pak, silahkan duduk yang nyaman". Pintanya padaku.
Benar, dokter itu menyiapkan alat kemudian mendekat padaku.
"Misi ya Pak"
Aku menahan nafas ketika dokter itu memasukkan sesuatu ke hidungku. Alat semacam cotton but yang biasa digunakan untuk mengorek telinga, namun ini dimasukkan ke hidung.
"Sampun Pak".
"Sudah Bu? " Kataku memastikan
"Nggih Pak, proses kurang lebih 30 menitan, nanti baru terlihat hasilnya"
"Oh, baik Bu". Jawabku.
Dokter itu segera masuk membawa alat tes itu.
Cepat sekali batinku. Alat nya dimasukkan gitu saja. Agak terasa sedikit sakit karena alat mengorek cukup dalam dibagian hidung.
Akupun menunggu didepan ruangan apotik klinik itu. Sedikit gelisah perasaanku menunggu hasilnya.
Untuk mengalihkan perasaan yang berkecamuk aku mengamati lingkungan klinik. Ada sebuah tulisan bagus di dinding. Obati sakitmu dengan sedekah.
"Hemm.. " Gumamku dalam hati. Keren sekali klinik ini. Entah kenapa klinik ini terasa lebih nyaman dibanding klinik-klinik yang lainnya. Nuansa Islaminya terasa dan menumbuhkan keyakinan bahwa klinik ini amanah.
"Antrian atas nama Bapak Tarto". Terdengar suara petugas klinik melalui pengeras memanggil namaku.
"Saya Mba".
"Silahkan bapak masuk ke ruangan, dokter sudah menunggu".
"Baik Mba" Jawabku lagi.
Akupun masuk ke ruangan yang dimaksud kan petugas tersebut.
"Misi Dok" Sapaku ke dokter yang berada di ruangan itu.
"Silahkan duduk Pak"
"Bagaimana ceritanya Pak? " Dokter itu menanyaiku setelah melihatku duduk.
"Memang hasilnya sudah keluar Bu?" Tanyaku balik ke dia.
"Sudah Pak, berdasarkan tes bapak dinyatakan positif, dan nanti harus isolasi. Kami akan menghubungi petugas puskesmas untuk berkoordinasi". Terang dokter itu
"Misal tidak dilaporkan ke puskesmas bisa tidak Bu? "
"Prosedurnya harus demikian Pak, kami harus melaporkan setiap ada pasien yang terpapar".
"Untuk saya bisakah dibuat pengecualian bu?" Pintaku padanya.
"Tidak bisa Pak, nanti kami bisa kena sangsi. Tidak apa Pak, InsyaAllah akan baik-baik saja. Puskesmas akan membantu". Jelasnya padaku lagi.
Aku berpikir bahwa ini akan panjang urusannya. Sekarang aku tinggal di pondok pesantren yang di daerah situ belum ada kasus yang terpapar covid. Bisa ramai warga nanti, heboh sekelurahan.
"Baiklah Bu". Jawabku agak lemas memikirkan yang akan terjadi nanti.
Akupun pamit dari klinik dan kembali ke pondok.
Satu malam Yang Bergejolak
Bersyukurnya pondok kala itu sedang sepi. Di pondok sudah beberapa bulan ini yang tinggal hanya aku saja. Para santri rata-rata adalah mahasiswa POLINES dan UNDIP yang selama pandemi pembelajaran secara daring sehingga mereka memilih pulang kampung, dan kuliah dari rumah.
Di pondok aku pun berpikir keras apa langkahku selanjutnya. Aku berusaha menemukan cara agar kejadian ini tidak membuat panik warga.
Aku merapikan kamarku, kubereskan benda-benda sesuai tempatnya. Aku berpikir bahwa besok ada petugas yang datang menjemputku atau paling tidak akan melakukan penyemprotan ke ruangan ini.
Lalu terbersit dalam hati bahwa ini tidak bisa kupecahkan sendiri Disini ada bapak pondok, aku harus matur ke beliau dan minta solusi. Aku pun bergegas dan menggunakan baju bersih, memakai masker dan kemudian sowan ke ndalem.
Kuketuk pintu sambil mengucap salam. "Assalamu'alaikum". Tidak berapa lama bapak pondok pun keluar.
" Waalaikum salam, mlebu Kang"[Masuk kang]. Jawab bapak pondok dan mempersilahkan ku masuk.
" Nggih Bapak, maturnuwun ". Kataku sambil masuk dan duduk.
" Piye kang? "[Ada apa Kang]
"Nggih bapak, pangapunten badhe matur" Kataku sambil dag dig dug dalam hati.
"He.e, piye mau?
"Niki Bapak, kula nde wau tes SWAB teng klinik, kula dinyatakan positif menika. Kula kan teng mriki, mangke puskesmas mesti bakal menghubungi panjenengan dados kula matur rumiyen.
[Ya Bapak, saya tadi tes SWAB di klinik, saya dinyatakan positif. Saya kan tinggal disini, nanti kemungkinan petugas puskesmas akan menghubungi bapak, jadi saya bilang dulu]
"Oo..yo mestine ngono. La terus piye karebmu? "
[Oo..pastinya begitu. Terus bagaimana maksudmu? ]
"Pondok menika kosong, umpami kula isolasi teng pondok mawon pripun bapak?"
[Pondok sedang kosong, jika saya isolasi di pondok saja pripun Bapak? ]
"Yo ngono ora opo-opo. Tapi sesuk Minggu kuwi TPQ wes tak kon mlebu, terus iki mengko bakalan dadi sorotan pondok.e, piye jal?
[Begitu juga boleh, tapi besok minggu anak-anakTPQ sudah kuminta masuk, terus nanti pondok akan menjadi sorotan?]. Jawab bapak pondok padaku sambil memperkirakan yang akan terjadi.
"Ne iso yo ojo neng kene Kang" [Kalau bisa jangan disini kang] bapak pondok meralat dan memastikan jawabannya.
Aku mencoba memahami maksud bapak, aku menerimanya dengan pandangan baik.
"Nggih Bapak, boten mengapa, matur nuwun bapak"[ya Bapak, tidak mengapa, Terima kasih bapak]
Aku pun pamit dan kembali ke kamarku. Aku berpikir keras apa yang harus kulakukan selanjutnya. Aku harus tinggal dimana dan secepatnya meninggalkan pondok.
Sementara sambil berpikir kukemas pakaianku. Kumasukkan beberapa potong baju ke tas sebagai ganti, laptop barangkali nanti ada tugas kuliah, hape dan peralatan mandi.
Tidak mudah dalam kondisi tubuh membawa sesuatu yang bisa menular untuk mencari tempat tinggal. Aku perantauan di Semarang, ada saudara namun mereka punya anak-anak, tidak mungkin dan aku juga tidak mau ambil resiko. Namun aku harus mencari tempat tinggal gantinya pondok.
Akhirnya kuputuskan menghubungi salah satu saudaraku yang ada di Semarang.
"Assalamu'alaikum Mas, aku tes SWAB antigen positif. Tidak diijinkan isoman di pondok karena hari minggu anak-anak TPQ akan mulai belajar mas. " Sapaku melalui chate WA.
"Waalaikum salam Om" Jawab masku.
Kemudian tidak berapa lama beliau telpon.
"Bagaimana Om ceritanya? "
Aku pun menceritakan kejadian yang kualami, dan saat ini harus segera keluar pondok dan mencari tempat tinggal.
"Bagaimana menurut njenengan?, minta sarannya Mas". Sambungku setelah selesai bercerita.
"Bagaimana kalau tinggal di rumah Mangun Harjo saja? Disana kosong hanya barang-barang, nanti makan tak kirim". Kata masku.
Mangun harjo masih satu kecamatan Tembalang tempatku mondok sekarang. Dulu aku pernah tinggal disana dan identitasku masih ikut alamat sana. Namun sudah beberapa tahun ini aku tidak ke sana lagi. Administrasi kewargaan dibantu oleh keponakan yang saat itu tinggal dirumah itu. Namun sekarang sudah pindah karena beli rumah sendiri.
"Tapi aku sudah lama tidak kesana mas, nanti warga heboh tidak ya? Datang-datang bawa penyakit" Kataku yang penuh kebingungan.
"La mestine" Sahut masku.
"Apa aku pulang kampung saja mas?, disana kan kosong" Sambungku meminta pendapat.
"Oh.. Begitu saja om. Begitu malah enak".
Namun kembali pikiran berkecamuk. Aku memikirkan jika nanti ditracing bagaimana. Harus menjawab apa. Aku bukanlah tipe pembohong yang baik. Bila di desa pastinya juga keluarga yang di desa akan dites. Merepotkan mereka. Allahuakbar.
"Om, nanti tak kirimi bawang lanang ya Om, dimakan agar cepet sembuh" Terdengar suara mbaku ipar [istri masku]
Beliau memang sangat perhatian dengan keluarga kami, subhanallah. Aku pun terharu mendengarnya.
"Ya Mba, Terima kasih".
Dengan pikiran yang gundah - gulana kuucapkan terimakasih kepada masku dan akhirnya aku pun memilih pulang ke desa.
Di desa aku memang ada rumah yang sudah lama tidak ditempati. Aku juga masih punya Ibu namun beliau saat ini tinggal di Semarang bersama saudaraku yang telpon tadi. Aku anak terakhir dari tujuh bersaudara. Ada dua saudara yang saat ini tinggalnya di desa. Namun yang dekat hanya satu, tinggalnya di belakang rumahku tapi rumahnya menghadap sisi jalan berbeda.
"Assalamu'alaikum Ia". Chate.ku pada Ria anak perempuannya masku.
" Ia, aku mau bicara tapi untuk kita saja ya, jangan bilang siapa-siapa ". Sambungku lagi.
"Tapi Pak.e Mak.e boleh tahu Ia. Aku tes SWAB dan positif corona Ia. Aku mau isolasi di desa, tolong aku mintakan air galon Mak.e Wulan ya".
Aku biasa memanggil Ria, anaknya masku di desa dengan panggilan Ia. Sudah jamak panggilan Pak dan Mak untuk orang tua di desa kami.
Air galon yang dimaksud adalah air alkali yang menurut beberapa referensi yang kutahu sangat baik untuk meningkatkan imun tubuh.
Entah karena sinyal atau memang sedang tidak pegang hape sehingga butuh beberapa waktu untuk menerima balasan dari Ria.
"Wa'alaikum salam Om". Jawab keponakanku Ria.
"Baik om, nanti tak suruh mengirim" Jawab Ria.
Ria agak terkejut mengetahui kabarku. Kami mengobrol lewat chate whatsapp hingga malam cukup larut. Ria menanyaiku berkaitan aku terpapar covid. Simpatinya terasa dari respon yang diberikannya.
Keluarga Tempat Terbaik
Tanggal 21 Mei 2021 meluncurlah aku ke desa. Kali ini aku melewati jalan yang tidak biasanya. Hal ini agar tidak menimbulkan banyak pertanyaan di warga bila melihatku sudah pulang lagi.
Ya, beberapa hari sebelumnya aku memang dari desa. Mengantarkan uang untuk acara dodok lawang di tanggal 30 Mei. Aku sempat menginap di rumah Ria dan berinteraksi dengan warga. Tanggal 18 Mei aku baru balik ke Semarang.
Kubuka pintu rumah dan kulihat air galon yang kupesan sudah berada di meja. Kubersihkan rumah yang lama tak ditinggali ini. Rumah ini ramai hanya saat ada acara tertentu seperti lebaran. Namun lebaran kali ini berbeda karena tidak diijinkan mudik oleh pemerintah.
Kugelar kasur bed yang tersandar di dinding. Kucek kamar, dapur, kamar mandi, lampu-lampu masih nyala semua.
Suasana desa sangat berbeda setelah sekian lama kutinggal merantau. Sudah banyak perubahan disini. Jalan kini banyak yang sudah dicor, instalasi air PAM sudah masuk. Lampu penerangan juga sudah ada.
"To". Terdengar suara mbak.ku memanggil namaku.
Kubuka pintu dan kulihat beliau mengirim makanan. Subhanallah. Satu piring penuh nasi lauk dan sayurnya.
"Wes diceritani Ria ya Dhe? " Tanyaku ke beliau.
"He.e.. Wes"
"Ngrusoi [merepotkan] ya Dhe" Kataku
" Ora opo-opo" Jawab beliau." Tak tinggal ya" Imbuhnya.
"Matur nuwun Dhe".
Beliau pun meninggalkan rumahku setelah meletakkan makanan.
Beliau dan keluarga yang merawat dan memasakkan masakan spesial selama aku isolasi di desa. Ini kuketahui karena tidak jarang aku menemui masakkan yang tidak biasa ada dirumah beliau. Bahkan yang diberikan kepadaku bisa lebih istimewa daripada yang dimakan bersama keluarganya.
"Bakso Om" Ria siang itu datang membawakan makan siang.
"Ndi piringe seng kotor tak gawane sisan". [Mana piring yang kotor ku bawa sekalian]. Ucapnya setelah menaruh makanan.
" Sudah tak cuci kok Ia". Jawabku.
"Oh ya, nanti tidak usah ngirim nasi ya Ia, iki nasine masih cukup sampai malam".
Begitu baik dan perhatian Ria dan keluarga hingga makanan sering lebih. Jika mengirim nasi buanyak sekali. Sarapan dikirim lontong, makan siang nasi satu piring penuh, sore lagi. Subhanallah.
Alhamdulillah selama isolasi selera makanku tidak berkurang. Indra penciuman juga baik. Namun badan rasanya pegal semua, lemes, pusing dan perut sakit mau BAB.
"Klunting" Kudengar ada notifikasi dari hape. Kubuka ada chate di grup keluarga.
Terlihat ada tulisan chate panjang dari anggota grup yang mengabarkan bahwa aku terpapar covid dan meminta doa semua anggota grup untuk kesembuhanku. Subhanallah, begitu perhatiannya mereka.
Tidak berapa lama hape kembali bunyi. "Klunting". Ternyata chate dari Ibu Pondok di Semarang.
"Kang, ngombe teh dikei minyak kayu putih" [Kang, minum teh dikasih minyak kayu putih]. Ibu pondok menasehati ku.
"Sedinten ping pinten Bu? " [Sehari berapa kali bu?] Tanyaku.
"Ping loro".[dua kali] jawab ibu pondok.
" Baik Bu, Matur nuwun "
Mulai saat itu kujalankan saran beliau.
Suplemen yang kuminum selama isolasi setiap hari diantaranya: vitamin 1000 mg, air alkali, madu, bawang, fluca*ex untuk obat batuk, pilek dan pusing, susu ber**ng. Semua kukonsumsi bergantian secara teratur.
Namun yang paling terasa khasiatnya menurutku adalah minyak kayu putih. Setiap pagi dan malam aku membuat teh tawar kemudian kutetesi minyak kayu putih. Selama digelas masih panas ada uapnya maka uap kuhirup dulu. Setelah agak hilang uapnya baru kuminum tehnya.
Selain itu, minyak kayu putih juga kuteteskan ke tisu kemudian kugunakan untuk lapisan masker. Alhamdulillah, selama isolasi badan terasa cukup baik dan fit.
Isolasi diminggu pertama tidak ada kendala. Badan fit, namun secara finansial uangku terkuras. Aku butuh support dana untuk membeli kebutuhan selama isolasi.
Obat-obatan sudah menipis, hand sanitizer habis, tisu, minyak kayu putih dan lain-lain juga tidak cukup untuk sisa waktu isoman. Akhirnya ku beranikan diri menghubungi saudaraku yang di Semarang.
"Assalamu'alaikum Mas. Nyuwun uangnya Mas". Aku langsung saja tanpa basa basi ngomong begitu ke masku.
Beliau adalah orang yang kuajak omong diawal. Emakku juga tinggalnya bersama beliau.
" Waalaikum salam Om, la berapa? " Tanya masku.
"1 sampai 1.5 juta Mas, untuk beli Milag**s dan Susu ber**ng". Jawabku.
" 1.5 atau 2 juta? Tanya masku menegaskan.
Karena kuhitung kebutuhan harus beli 2 pack setaip produknya maka akupun memantapkan hati bilang 2 juta.
"Dua juta Mas, nanti jika sudah transfer aku diberitahu ya Mas". Pintaku.
Alhamdulillah, bersyukur Allah mengelilingiku dengan keluarga yang baik dan perhatian. Dari sini aku bisa belajar bahwa: Sebaik apapun karir kita diluar, sebanyak apapun teman kita, namun tempat terbaik adalah tetap keluarga.
Tidak Bisa Menemui Cinta
Masa Isolasiku telah memasuki pekan kedua. Sampai disini tidak ada pihak puskesmas yang menghubungi. Antara senang dan senang.. Hehehehe.
Alhamdulillah Allah masih menutupi aibku. Meski konsekuensinya untuk obat-obatan aku harus swadaya sendiri. Tapi tak mengapalah, daripada membuat geger. Hehehehehe..
"Om. Sarapan Om". Ria masuk membawakan sarapan lontong pagi itu.
" Ho.o Ia". Jawabku.
"Besok tanggal 30 ngga bisa ikut berarti Om? ". Tanya Ria padaku.
" Ya ngga bisa berarti Ia, Aku ngga berani, nanti aku pasrah sama Pak.e dan Mak.e wae Ia".
Tanggal 30 Mei 2021 aku berencana ndodok lawang/ pra lamaran ke seorang gadis cantik pilihanku. Hal ini sudah kami rencanakan beberapa minggu sebelumya. Dimana hari tersebut merupakan arahan hari baiknya yang sudah dipilih.
Persiapan sudah jauh-jauh hari. Soal apa yang dibawa semua kuserahkan ke Mas dan Mbaku, orangtuanya Ria.
"Assalamu'alaikum Mas, tanggal 30 jadi minta tolong didampingi ya Mas" Chate.ku ke masku yang di Semarang.
"Wa'alaikum salam Om. Baik Om" Jawab beliau.
Alhamdulillah, beliau mau menyempatkan waktu. Dulu sebelum isolasi memang pernah kusampaikan bahwa nanti tanggal 30 Mei 2021 aku minta tolong beliau untuk mendampingi.
"To". Masku bapaknya Ria datang berkunjung.
" Piye seng dirasa.ke? " [Apa yang dirasakan? ] tanya beliau.
"Alhamdulillah Dhe, enak awak.e". Jawabku.
" Ya syukur ne ngunu, [Ya syukur kalau begitu], Aku wes ngomong karo pak Jimin [Aku sudah bicara dengan Pak Jimin]. Kata beliau.
Pak Jimin adalah duta dari pihak keluargaku yang akan mewakili bicara nanti disana.
"Nggih Dhe, ampun kesupen mangke berangkat ngagem masker lan hand sanitizer nggih Dhe".[ya Dhe. Jangan lupa berangkatnya nanti memakai masker dan hand sanitizer ya Dhe". Pintaku agar sesuai protokol kesehatan.
"Mangke tulung tumbaske nggih Dhe".[nanti tolong belikan ya Dhe]. Sambungku.
"Wes ono kok, wes disiapke"[sudah ada kok, sudah disiapkan].Jawab beliau.
" Berarti kowe yok ora iso milu yo?!". [Berarti dirimu tidak bisa ikut ya]. Gumam beliau sedikit menyesalkan kejadian ini.
"La ya, disaat ngene kok ono-ono wae" [La ya, disaat begini kok ada-ada saja]. Sambung beliau.
"Boten nopo Dhe, yen didelok apik.e kan aku dadi ngerti kahanan omah lan ndesa Dhe". [Tidak apa Dhe, jika dilihat dari sisi baiknya aku kan jadi tahu suasana rumah dan desa Dhe].
Ya. Selama ini aku sangat jarang tinggal lama di desa. Sudah ada 10 tahun lebih aku merantau di Semarang. Pulang hanya jika ada kegiatan tertentu dengan keluarga atau ada kegiatan remaja saja. Itupun biasanya berangkat siang langsung balik lagi malamnya ke Semarang.
"Assalamu'alaikum Om". Sapa masku yang dari Semarang.
"Waalaikum salam Mas, njenengan datang kapan Mas? Tanyaku.
"Tadi pagi".
Hari itu telah tiba hari yang direncanakan. Masku datang bersama Istri beliau. Aku meminta beliau membawa mobil untuk mengantar rombongan ke si dia si jali-jali. [Hehehehe].
Kuinfokan ke si dia bahwa rombongan sudah akan berangkat. Tapi dia menyahut" Eh, jangan pagi-pagi, aku belum dandan, pokoknya sampai sini jam 9-9.30 an saja".
Aku pun menyampaikan ke masku untuk santai tidak perlu buru-buru. Acara akan dimulai jam 10.00 pagi.
"Ya Om. Biar mateng dulu masaknya". Jawab masku dengan nada canda.
"Om, berjemur Om. Waktu baik biar makin sehat". Pesan mba iparku yang dari Semarang berpesan.
"Ya Mba. Asiappp". Jawabku pagi itu.
Pagi itu aku keluar menghirup udara desa yang masih segar. Cuaca cerah dan matahari hangat terasa mengenai kulit. Sudah tidak banyak orang yang lewat karena biasanya warga sini pagi sekali berkegiatannya.
Aku berpikir agak sayang juga tidak bisa ikut diacara hari ini. Momen yang sudah kuimpikan dengannya. Tapi Allah menghendaki aku tidak ikut, aku tetap berusaha menerima keadaan ini.
" To". Masku Bapaknya Ria memanggilku.
"Nggih Dhe". Jawabku
"Ki wes siap-siap mangkat, pokok.e mengko opo perlune pasrah wae karo wakile yo" [Ini sudah mau siap-siap berangkat, pokoknya nanti pasrah saja dengan duta yang mewakili ya].
"Nggih Dhe. Nyuwun tulung nggih Dhe". Pintaku.
" Yo. Yo wes ngono wae, tak tinggal se ya" [Ya. Ya sudah begitu saja, kutinggal dulu ya].
"Nggih Dhe, mugi-mugi lancar samudayanipun" [Ya Dhe, semoga lancar semuanya].
Rombongan berangkat sekitar pukul 8.30 pagi. Perjalanan dari rumahku ke si dia kurang lebih 1 jam. Jadi masih ada waktu sejenak sebelum acara dimulai.
"Mas, rombongan sudah berangkat belum?. Tanya si dia si jali-jali padaku.
"Sudah, ini otw". Balasku.
Sekitar pukul 10.45 WIB. Hapeku berbunyi."klunting, klunting, klunting". Ada beberapa pesan yang masuk.
"Alhamdulillah Om. Sudah diterima dari pihak sana". Chate masku yang dari Semarang mengabari bahwa acara inti sudah selesai.
"Nanti hari H.nya di bulan November". Sambung beliau.
"Alhamdulillah. Nggih Mas".
Senang rasanya mengetahui kabar itu. Hati plong meski tidak bisa menyaksikan langsung acaranya.
Masku menginfokan acara berjalan lancar sesuai yang diagendakan. Dari pihak kami yang berangkat 4 orang yakni 3 saudaraku dan 1 wakil. Sementara dari keluarga pihak sana yang hadir kira-kira lebih dari 10 orang.
Duta kami menyampaikan hajat kami, kemudian bergantian wakil dari pihak sana menyambut dan memberikan jawaban. Selain itu juga disampaikan sebagai oleh-oleh kapan hari H pernikahan kami.
Rombongan masku tiba kembali ke rumah Ria yang sebagai transit sekitar pukul 12.30 siang.
"Om. Alhamdulillah acara wes bar, Aku pamit ya Om". Chate masku melalui WA sekitar pukul 15.30 setelah Asar.
"Nggih Mas, matur nuwun sanget nggih Mas, sampun dibantu "[Ya Mas, Terima kasih sekali sudah dibantu]
" Ya Om, Sama-sama ". Kata beliau.
Ketika Kematian Terasa Dekat
Masa isolasiku masih tersisa beberapa hari kedepan. Secara fisik di pekan kedua cukup baik. Hanya terkadang masih sering pusing, perut tetiba sakit, dan sesekali batuk datang tapi tidak sering.
Selama isolasi aku glundung-glundung saja dirumah. Hawa yang terasa mudah lelah dan mengantuk. Jadi dikit-dikit aku tidur.
Dalam waktu senggang kugunakan untuk membaca Al-Qur'an. Di situ memang tidak ada hiburan apa-apa. Sudah lama aku tidak melihat televisi secara pribadi. Dan sampai saat ini meski mampu belum ada niatan untuk membelinya.
Sedikit horor bila waktu malam datang. Dalam sepi, kondisi sakit tidak ada siapapun, psikis jadi terganggu. Dalam kesendirian dengan waktu panjang membuat pikiran bermacam-macam datang.
Bayangan bila tiba-tiba sesak nafas tidak ada yang tahu, terus bila malaikat itu datang dan apa yang kubawa, bekalku ke akhirat terasa belum banyak. Allahuakbar.
Pikiran semacam itulah yang seringkali datang. Panik, belum siap, dan seakan umurku kala itu hanya tinggal hitungan hari.
Akupun berusaha berpikir bagaimana menambah amal jika Allah berkehendak memanggilku.
Aku teringat akan pesan dosenku bahwa membaca Al-Qur'an itu juga disebut dzikir. Selain itu aku juga teringat perkataan ustadz bahwa membaca Al-Qur'an pahalanya dihitung perhuruf, satu huruf 10 kebaikan. jika satu ayat saja misal terdiri dari 20 huruf, maka jika aku bisa membaca setidaknya 1 juz perhari pahalanya bisa banyak.
Dari isolasi ini ada hikmah untuk diriku. Aku sekarang bisa lebih sering dekat dengan Al-Qur'an. Alhamdulillah lebih ringan untuk membaca Al-Qur'an dibanding sebelum-sebelumnya.
Di Ujung Penantian
"Assalamu'alaikum Pak Tarto". Kubaca chate dari kepala sekolah tempatku mengabdi.
" Waalaikum salam Bu In". Jawabku.
"Bagaimana kabarnya Pak? Sambung beliau.
"Alhamdulillah Bu, berkat doa panjenengan kondisi saya semakin fit dan sehat ".
"Alhamdulillah. Disana sudah ada yang merawat ya Pak? " Kata Bu Iin lagi.
"Ada Bu, saudara dekat rumah setiap hari memantau". Kataku.
"Ooh.. Disitu tinggal sendirian nggih Pak?
"Nggih Bu, dirumah sendirian menika, ibu di Semarang bersama Mas di sana". Kataku lagi.
Kepala sekolahku cukup aktif menanyakan kabar di saat aku isolasi. Selain itu teman-teman sesama pendidik juga bertanya kondisi kesehatan dan keadaanku. Alhamdulillah, aku bersyukur bisa bekerjasama dengan beliau-beliau.
"Tok tok tok". " Assalamu'alaikum ".
Terdengar suara diketuk dan salam.
" Waalaikum salam". Jawabku sambil menengok dari kaca.
Kulihat ada zeni temanku di depan pintu yang biasa kuajak diskusi tentang remaja.
"Halu ndan, ko ngendi? " [Hai ndan, darimana?] begitulah biasa aku memanggilnya.
"Ko warung proliman, ki Seger-seger".[dari warung simpang lima, nih Seger-seger]. Katanya sambil menyodorkan sebuah bungkusan di plastik.
Zeni ini memang akrab denganku. Dia sudah kuberitahu bahwa aku terpapar covid. Dalam masa isolasiku dia sering datang membawakan makanan.
"Mengko ne pengen opo ngomong wae yo". Sambungnya lagi dan langsung pamit.
" Sip ndan, terimakasih lo. Pot repot".kataku.
"Yo. Pokok.e butuh opo ngomong wae ngko tak golekke" [Ya. Pokoknya jika butuh sesuatu bilang saja nanti kucarikan].
Alhamdulillah, Allah mengirimkan orang-orang baik yang membantu dan memperhatikanku. Dari sini aku belajar bahwa kita hidup pasti akan membutuhkan orang lain. Sehebat apapun tidak akan bisa hidup sendiri. Terlebih disaat diri dalam keterbatasan. Disitulah sejatinya teman akan datang.
Isolasi telah sampai di hari ke 14. Aku mulai bersiap membersihkan dan menata rumah. Ada rasa nyaman dan ingin rasanya tinggal lebih lama di sini. Duh. Suasana yang terbalik karena dulu aku tidak ingin tinggal di sini.
"Om, makan Om" Ria datang mengantar makanan.
"Piye Om keadaanmu? Tanya Ria padaku.
"Alhamdulillah Ia, sudah fit, besok aku balik Semarang Ia". Kataku padanya.
"Apa sudah sembuh beneran Om? ". Tanyanya memastikan.
"Aturannya isolasi 14 hari kok Ia, besok aku mau tes untuk memastikan".
Selama beberapa hari terakhir aku memang banyak mencari referensi langkah-langkah setelah isolasi berakhir.
Diantaranya yang kubaca dari Kontan.Id. Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Riau, dr Indra Yovi mengatakan, pasien positif Covid-19 yang sudah diisolasi selama 10 hari dan tak menunjukkan gejala, maka tidak lagi berisiko menularkan virus kepada orang lain. Dengan demikian, yang bersangkutan diperbolehkan kembali beraktivitas atau bekerja seperti biasa, tanpa harus menjalani tes PCR terlebih dahulu.
Dari kompas.com jika setelah selesai isolasi mandiri masih bergejala, pasien Covid-19 bisa melakukan pemeriksaan rapid test antigen. Pasien perlu menjalani pemeriksaan PCR jika gejala tidak hilang dan mengalami perburukan.
Karena aku merasa fit dan sudah melewati batas hari untuk mengisolasi diri, maka aku memutuskan untuk melakukan tes antigen agar makin mantap.
"Dhe, hari ini saya nyuwun pamit nggih". Kataku pada masku dan istrinya yang selama ini memberikan perhatian lebih padaku.
"Matur nuwun sanget nggih Dhe, Sampun diopeni". Aku pun mengucapkan Terima kasih kepada beliau dan keluarga yang telah banyak membantuku.
Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikan mereka, yang jelas kebaikan mereka akan selalu dalam ingatan.
" Kula mangkat riyen nggih Dhe" [Saya berangkat dulu ya Dhe]. Pamitku ke Masku dan istri, serta Ria yang saat itu juga ada di situ.
" Ya. Ati-ati neng ndalan".
"Hati-hati Om". Sahut Ria.
Aku pun memacu motorke sore itu. Sengaja agak senja berangkatku agar dijalan lebih adem.
Perjalanan dengan motor dari desaku ke Semarang membutuhkan waktu 2 - 2.5 jam dalam keadaan jalan lancar.
Terdengar suara adzan magrib menggema. Aku masih ragu untuk melakukan sholat jamaah. Sehingga kulaju motorku tidak berhenti di masjid yang kulewati.
"Namun aku harus sholat" Kata hatiku.
"Nanti mencari masjid yang luas saja". Batinku lagi.
Kuteringat ada masjid besar di pusat kecamatanku. Kugas kendaraanku menuju masjid itu. Tiba disana masih ada beberapa motor jamaah di depan masjid. Segera kuparkir dan kuambil wudhu.
Masih ada rasa was-was di hati barangkali masih bisa menular. Maka aku pun memilih tempat dipojok samping lemari yang jarang digunakan orang.
Selesai sholat wajib dan sunahnya kembali aku melanjutkan perjalanan. Aku berjalan lambat dan santai karena memang tidak ada urgensinya untuk cepat-cepat.
Tujuanku malam ini sampai Semarang langsung ke klinik dan tes. Klinik yang kugunakan waktu pertama tes sudah tutup. Aku browsing di internet mencari klinik yang melayani tes covid hingga malam. Setelah beberapa saat ketemu sebuah klinik di daerah Banget Ayu yang buka praktek 24 jam. Akupun meluncur mengarahkan motorku ke sana.
"Misi mba". Kataku pada petugas klinik.
" Ya Pak, ada yang bisa kami bantu? ". Jawab petugas klinik.
" Mau tes antigen daftarnya di mana ya Mba? " Tanyaku padanya.
"Di sebelah sana Pak, namun mohon maaf ini sedang istirahat buka lagi jam 10, bapak bisa mengambil nomer antrian dulu di sini". Jawabnya lagi sambil menunjukkan mesin antrian.
Akupun mengambil antrian. Masih ada waktu kurang lebih 20 menitan kugunakan melihat-lihat ke sekeliling klinik.
Klinik yang ramai. Banyak mobil dan motor datang silih berganti. "Apa sih spesialnya klinik ini?" Tanyaku dalam hati.
Mungkin faktor lokasi yang strategis di pinggir jalan raya. Atau juga bisa karena promosinya yang bagus juga bisa. Dari banner yang dipasang harga tes SWAB, PCR, dan tes genus memang dibawah pasaran. Tampaknya ini juga menjadi nilai tambah selain bisa melayani 24 jam.
"Nomer antrian 32 silahkan ke loket pendaftaran". Terdengar suara penjaga melalui speaker.
Nomerku 42 masih ada 10 orang lagi. Agar tidak ketinggalan aku pun masuk menunggu giliran.
Banyak sekali orang yang sakit. Ada yang berpasangan ada yang sendirian. Ada yang orang tua dan tampak juga ada anak yang digendong ibunya. Duh.
Semua butuh sehat. Begitu berharganya kesehatan sehingga malam pun tetap diusahakan mendapat pengobatan.
"Silahkan bapak, kertas ini dibawa ke kasir untuk melakukan pembayaran". Kata bagian pendaftaran setelah tiba giliranku.
Aku pun menuju ke loket yang dimaksud. Kusodorkan kertas pendaftaran dan kubayar sesuai tarif yang tertera dikertas.
"Tes.nya dibelakang ya pak, belok kanan lalu ke kiri, ini kwitansi nya Pak". Kata kasir klinik mengarahkan.
" Baik Mba, Terima kasih".
"Sama-sama Pak". Jawabnya.
Aku pun ke ruangan belakang ke tempat pengambilan spesimen. Terlihat sudah ada beberapa antrian pengunjung.
Pakaiannya banyak yang rapi mungkin klinik ini menjadi rujukan bagi mereka yang akan bepergian jauh yang membutuhkan tes dan surat pengantar bebas covid.
Jam menunjukkan pukul 22.30 WIB. Kuambil kursi lalu duduk menunggu panggilan.
"Cepat sekali pengambilannya". Batinku.
Tiba giliranku, aku pun maju ke petugas.
" Misi ya Pak". Kata petugas sambil memegang kepalaku dan memasukkan alat tes ke dalam hidungku.
"Sudah, nanti 30 menitan hasilnya ya Pak, silahkan ditunggu".
Hadeeehh. Lama. Namun Aku berusaha maklum karena klinik memang ramai yang tes.
Ngantuk dan jenuh menghampiriku. Aku berusaha bergerak agar kuat selama menunggu panggilan. Beruntungnya aku sudah sholat isya tadi. Jadi tidak punya tanggungan.
Aku masih punya air alkali dan susu ber**ng di motor. Maka kuambil untuk menambah stamina. Kuminum sambil menikmati udara malam itu. Segarrrr.
"Atas nama Bapak Tarto".
"Atas nama Bapak Tarto". Panggil petugas laboratorium mengulanginya.
Aku pun meluncur ke arah suara.
" Saya Mba". Kataku.
"Silahkan Bapak, berikut ini hasil tesnya".
" Terima kasih Mba". Kataku lagi.
Kuterima amplop putih bercorak hijau dari petugas itu. Deg-deg pyar rasa hati melebihi ketika mau ketemu gebetan. Cieeee. Aku pun mencari tempat yang aman untuk membukanya.
"Bismillahirrahmanirrahim". Gumamku menguatkan hati.
Kubuka pelan-pelan amplop itu. Duh.. Serrrrr. "Ya Allah, Ya Allah" Gumamku lagi. Jantungku berdetak lebih cepat.
Kubaca hasil tes dibagian bawah tertulis negatif.
Alhamdulillah, syukur kupanjatkan ke pada Allah. Penantian terjawab sudah. Doa-doa keluarga, sahabat, Teman-teman baik telah membukakan pintu langit sehingga Allah masih mengijinkan diriku untuk kembali menikmati kehidupan dan memperbanyak ibadah.
Segera kabar baik ini kuberitakan ke orang-orang yang telah membantu kesembuhanku. Kuucapkan Terima kasih kepada mereka yang telah memberikan dukungan disaat aku tidak mampu sendiri. Mereka orang-orang hebat yang sudah seharusnya mendapatkan bintang kehormatan.
Akhir sebuah perjuangan
Urgent. Dibutuhkan segera pendonor
plasma konvalesen dengan golongan darah A Rhesus + untuk Ibu Suharti usia 50
tahun yang saat ini dirawat di RS Telogo
Rejo, Semarang. Syarat nya :
- Pernah dinyatakan + Covid-19 dan
Sudah dinyatakan Negatif / sembuh Covid secara Swab/pcr selama min. 2 bulan
terakhir.
- Bergolangan Darah A+
- Dalam Kondisi Fit Sehat
- Usia 18 - 60 tahun
Hub.
Pihak Keluarga di WA. 081*********
Sebelumnya kami ucapkan terimakasih
atas perhatiannya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sekitar jam 9 malam lebih aku membaca
sebuah status whatsapp salah satu kontakku. Sepertinya Aku sesuai kriteria yang dibutuhkan.
Kumencoba mengirim pesan ke nomer yang tertera.
“Assalamu'alaikum Bapak/Ibu”. Aku
mengawali percakapan dengan pemilik nomer tersebut.
“Saya melihat sebuah postingan bahwa
Ibu urgent membutuhkan donor golongan darah A, jika masih membutuhkan saya
menawarkan diri barangkali sesuai”.
“ Waalaikum salam, inggih bapak untuk
Ibu mertua saya. Bapak bertempat tinggal dimana?” Beliau membalas pesanku.
“ Saya di Tembalang. Prosedurnya
pripun menika?, apakah saya ke rumah sakit tertentu atau pripun?
“Ngapunten, ini dengan Pak Tarto
nggih? Saya Yosar Pak”. Tampaknya dia mengenaliku, namun aku sendiri kurang
paham.
“Nggih Mas Yosar” Jawabku.
Beliau kembali bertanya mengenai kriteria darahku
untuk memastikan. Aku pun menjelaskan keadaanku sesungguhnya. kuceritakan juga
bahwa aku belum lama ini donor darah. Hal ini penting kusampaikan karena
sepengetahuanku bahwa donor darah minimal berjarak tiga bulan dari pengambilan
darah sebelumnya. Maka aku pun minta untuk ditanyakan ke dokternya bisa dan
tidaknya.
“Nggih Bapak, saya tanyakan dulu”.
Kata Mas Yosar padaku.
Sekitar 15 menit kembali Mas Yosar
mengirim pesan. “ Pak mohon maaf belum ada feedback dari dokternya. Nanti saya
kabari nggih Pak”.
“Ya Mas. Nanti jika bisa dan butuh
malam ini saya ditelpon saja mas, barangkali saya ketiduran”. Terangku.
Waktu menunjukkan pukul 10 malam.
Suasana yang sepi membuat rasa kantuk menyerang. Tak terasa aku terlelap. Aku terbangun
ketika mendengar suara alarm yang kustel jam
4 pagi. Ini sengaja kusetting demikian karena aku biasa mendapat tugas
untuk adzan subuh di musholla.
Aku menyempatkan membuka
whatsapp karena adzan subuh pagi ini
pukul 4.30 WIB. Ternyata Mas Yosar mengirim pesan sekitar jam 1. 17 WIB. dini
hari.
“Infonya Langsung ke PMI Semarang saja
Bapak Tarto. Mau donor a/n Nyonya Suharti golongan darah A+ dirawat di RS
Telogorejo Semarang sekalian dicek kondisi antigennya”. Isi pesan Mas Yosar.
Beliau kembali menghubungi sekitar 1
jam berikutnya namun aku tidak mendengarnya.
“Baik Mas, nanti saya berangkat
setelah subuhan nggih”. Jelasku.
Setelah Subuh akupun bergegas ke PMI.
Sepemahamanku PMI buka 24 jam karena sebelumnya aku mendonorkan darahku untuk
keponakanku sekitar pukul 00,30 dini hari.
“Permisi Pak, apakah ada petugas yang
melayani?” tanyaku pada sekuriti setelah kuamati ruang pendaftaran tampak sepi
tidak ada penjaganya.
“Mohon maaf Pak, pelayanan buka jam
setengah 8”. Jawabnya.
“Tapi beberapa minggu lalu saya donor
malam dilayani Pak”. Kataku ke penjaga keamanan tersebut,
“Ya Pak, namun itu hanya untuk bulan
Puasa saja”.
Allahuakbar. Misal tadi malam aku berangkat
pun juga tidak bisa diproses karena PMI sudah tutup. AKu yang tiba sebelum jam
6 pagi akhirnya keluar. Sebelum meninggalkan PMI kusempatkan memotret tulisan
jadwal buka pukul 7.30-20,30 dan tidak berapa lama kukirim ke Mas Yosar untuk
memberi kabar.
“Assalamu’alaikum Mas, Saya sudah di
PMI namun pelayanan bukanya setengah 8”. Chate.ku ke mas Yosar.
Sambil menunggu akupun mencari
sarapan di daerah simpang lima. Ketemu sebuah angkringan yang buka pagi. Aku
mampir untuk mengganjal perut.
“Wa’alaikum salam, Saya telpon nggih
Pak” Respon Mas Yosar. Mungkin baru membaca pesanku tadi.
“Pangapunten Pak ini saya masih di
Surabaya, jadi tidak bisa menemui. Ibu saat ini sedang kritis di ICU Pak. Jadi
butuh secepatnya” terangnya dalam telpon.
Aku bertanya ke Mas Yosar apakah bisa
proses donornya di RS. Telogo Rejo saja. Karena saat itu aku berada tidak jauh
dari situ. Namun ternyata prosedurnya tidak bisa. Pihak Rumah sakit mengarahkan
kebutuhan darah harus ke PMI.
Aku segera meluncur ke PMI lagi. Setelah
melengkapi syarat pendaftaran di front office aku diarahakan ke lantai dua
untuk mengambil formulir donor convalesen. Setelah menunggu beberapa saat
kembali aku ke pendaftaran untuk validasi. Proses pendaftaran selesai aku masuk
ke ruangan pengambilan darah sekitar pukul 9 pagi. Kembali Mas Yosar
menghubungiku sejauh mana prosesnya dan memastikan bahwa donor atas nama
mertuanya.
Aku menjelaskan bahwa saat itu sedang
antri dan kukirim beberapa foto untuk meyakinkanya. Kami intens berkomunikasi
dan aku berusaha menyampaikan keadaan sesuai yang terjadi untuk menenangkan
beliau yang tampaknya makin panik.
Petugas selesai mengambil darahku,
namun ternyata itu masih awal karena hanya merupakan pengambilan sample.
“Untuk mengetahui kualitas plasmanya
masih baik atau tidak membutuhkan waktu
kurang lebih 3-4 jam Pak, nanti akan dihubungi petugas dan silahkan membuat
kesepakatan waktu untuk proses pengambilannya”. Kata petugas pengambil darah
menerangkan.
Kembali kumengabarkan pada Mas Yosar
perihal proses pengambilan plasma ini. Selanjutnya Aku mencari tempat yang
masih menyelenggarakan sholat Jumat karena hari itu hari Jumat. Agar tidak
mengganggu hape kumatikan datanya.
Selesai kegiatan jumaatan kembali
kuaktifkan hapeku. Subhanallah, banyak sekali chate masuk sehingga bingung mana
yang harus kujawab dulu. Dari sekian-sekian itu tampak ada chate dari nomer
baru.
“Selamat siang Pak, untuk hasil
labnya donor plasma bisa yaa, hasilnya bagus. Bapak bisa donor jam berapa?
Ternyata nomer itu petugas PMI. Kutelpon
nomer itu. “Saya segera ke PMI Mba. Ini saya baru selesai sholat Jumat sekitar setengah 2 ya Mba pengambilannya”.
Kataku karena waktu itu menunjukkan hampir jam 1 siang agar cukup perjalanan
dan persiapan di PMI.
“Mohon maaf Pak, karena hari ini bisanya
kami jadwalkan jam 4 sore” Kata petugas itu.
“Sehabis asar ya Mba”. Sambungku dan
berharap bisa dimajukan lagi waktunya.
“Mohon maaf tidak bisa Pak. Ini sudah
banyak antrian pengambilan, tempat dan petugasnya terbatas jadi tidak bisa.
Silahkan datang jam 4an ya Pak”.
Allahu akbar. Aku kembali mengabarkan
ke Mas Yosar bahwa aku bisa donor plasma mendapat jadwal waktu pengambilan
darah jam 4an sore karena petugas
terbatas dan banyak antrian.
“Alhamdulillah. Matur nuwun infonya
Pak. Bismillah semoga bisa membantu kesembuhan Ibu Pak”. Respon Mas Yosar.
Sambil menunggu jadwal kuputuskan
mampir ke saudaraku. Sekalian istirahat dan silaturahmi di sana.
“Assalamualaikum Mba”. Sapaku ke
istri Masku yang saat itu sedang duduk.
“Waalaikum salam. Dari mana Om?”
“Dari PMI Mba. Mau donor plasma tapi
dapat jadwal jam 4an karena ramai” Kataku ke Beliau.
Setelah berbasa-basi aku menyempatkan
untuk mengincipi masakan beliau. Setelah itu meminta ijin untuk numpang
istirahat hingga asar tiba.
“Assalamu’alaikum, apakah sudah jadi
diambil Pak?” Tanya Mas Yosar ketika aku sudah berada di PMI sore itu.
Aku yang sedang dalam proses
pengambilan darah plasma baru bisa merespon beberapa saat kemudian karena
tangan harus bebas agar bisa dimasuki jarum.
Kufoto petugas dihadapanku beberapa
dan kurekam video pula lalu kukirimkan ke Mas Yosar untuk menginfokan
perkembangan prosesnya.
“wa’alaikum salam Mas. Sedang proses,
kurang lebih 1 jam”. Jawabku sesuai apa yang disampaikan oleh petugas PMI yang
menanganiku.
Sekitar pukul 17.36 WIB proses
pengambilan plasmaku berakhir. Kartu permintaan darah keluarga Mas Yosar ke PMI
yang sudah ditanda tangani petugas PMI Kufoto lalu kukirimkan ke beliau.
Petugas PMI yang mengambil plasmaku
memintaku mengantarkan surat itu ke lantai 2 PMI untuk proses pengiriman ke
keluarga pasien. Kembali kufoto momen penyerahan kartu ke petugas PMI dilantai
2 itu lalu kukabarkan ke Mas Yosar bahwa proses dariku sudah selesai.
Hape langsung kumasukkan ke dalam tas
dan akupun bersegera mencari tempat sholat karena sudah memasuki waktu sholat
maghrib.
“Alhamdulillah ya Allah. Matur nuwun
Bapak. Semoga Bapak dan keluarga diberikan kesehatan dan kelancaran rejeki.
Mohon maaf kami tidak bisa memberikan apa-apa hanya doa agar Bapak dan keluarga
selalu sehat”. Dua menit kemudian ternyata Mas Yosar merespon pesanku.
Aku yang sedang perjalanan mencari
tempat sholat hanya foKus untuk segera bisa sholat. Proses donor plasma
kuanggap sudah selesai sehingga tidak
membuka-membuka hape dijalan.
Setelah sholat magrhib dan sunahnya
baru aku membuka hape. Kulihat ada pesan dari Mas Yosar.
“Innalilahi wainnailaihi raaji’un.
Telah meninggal dunia Ibu Suharti pukul 17.30 di RS. Telogorejo. Mohon maaf
bila ada salah kata dan perbuatan baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Matur nuwun Pak Tarto sampun berkenan berkenan donor plasma”.
Hatiku bergetar. Mata berkaca-kaca
mengetahui berita tersebut. Aku shock. Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku
hamper tidak percaya dengan kejadian itu.
“ Lho Massss. Innalilahi wainnailaihi
raaji’un. Mohon maaf ya Mas, donornya terlambat. Semua diluar kemampuan Saya.
Pangapunten sanget Mas”. Sesalku kala itu.
“Boten nopo-nopo Bapak. Saya ucapkan
terima kasih. Allah mungkin lebih sayang Ibu. Suwun sanget Bapak”.
Aku pun mendoakan agar Allah memberi
yang terbaik bagi almarhumah. Aku sudah berusaha berjuang membantu semampuku.
Namun Allah jualah yang memberi keputusan.
Tulisan ini kudedikasikan kepada orang-orang terkasih. Keluargaku, Dia si jali-jali calon ibu anak-anakku, Ibu kepala sekolah dan Beliau-beliau sahabat seperjuangan yang telah mendukungku dan selalu menyemangatiku beserta teman-teman yang tidak bisa kusebutkan satu-satu.
Semoga Allah membalas semua yang diberikannya dengan kebaikan yang lebih banyak.
================= SELESAI =================

Bagus Pak sangat menyenyuh
BalasHapusAlhamdulillah. Terima kasih arahan dan bimbingannya bu🙏
Hapus