MENGENAL PENERBIT MAYOR
Tanggal pertemuan: 4 Agustus 2021
Resume ke: 11
Tema: Menguak Dapur Penerbit Mayor
Narasumber: Edy S. Mulyanta, S.Si, M.T.
Gelombang: 19
===========÷÷÷÷÷÷============
Cara mudah bisa menulis - Sebuah buku yang tercetak hingga tiba di tangan pembaca memiliki cerita tersendiri. Sebelum tulisan berhasil tersusun rapi dalam lembar-lembar kertas, tulisan harus melalui proses yang cukup panjang. Tulisan akan melalui beberapa tahap sebelum siap disajikan ke pembaca. Tulisan harus terstruktur, diupayakan baik dalam tata bahasa, penulisan buku non fiksi harus sesuai ejaan bahasa Indonesia yang benar. Dan satu lagi agar buku bisa menarik minat pembaca adalah kebermanfaatan isi buku.
Penulis dalam mencetak hasil karyanya mempunyai pilihan. Penulis bisa menerbitkan buku melalui penerbit mayor atau penerbit indie. Kedua penerbit mempunyai nilai lebih sendiri-sendiri. Semua disesuaikan dengan tujuan dan kebutuhan penulis. Jika penulis ingin segera memiliki bentuk fisik buku, lebih cepat proses cetaknya, maka penerbit Indie bisa menjadi pilihan tepat. Kemudahan menerbitkan buku melalui penerbit indie diantaranya juga tidak begitu ketat seleksi naskah yang masuk.
Memilih penerbit indie berarti harus mau membayar penerbitan dan proses cetak bukunya. Penulis membayar hasil cetak sesuai tarif penerbit dan berapa banyak eksemplar buku yang diinginkan. Penerbit indie umumnya menyerahkan ke penulis soal pemasaran buku jika memang ingin dikomersialkan.
Berbeda dengan penerbit indie, penerbitan hasil karya tulis melalui penerbit mayor tidak dikenakan tarif cetak. Penulis cukup mengirim naskah sebaik-baiknya. Selanjutnya penerbit mayor akan memproses dari pencetakan buku hingga ke pemasarannya. Penulis akan mendapatkan bagian penjualan atau disebut royalti jika buku berhasil terbit dan laku dipasarkan.
Masih banyak lagi informasi mengenai penerbit mayor. Bersyukur dalam pelatihan menulis PGRI pertemuan yang ke 11 ini menghadirkan Nara sumber dari penerbit besar Andi Publisher. Beliau Edi S. Mulyanta S.Si, M.T. yang saat ini menempati posisi sebagai Publishing Consultant Andi Publisher. Pengalaman beliau di dunia percetakan sudah tidak diragukan lagi. Dari CV beliau sudah lama mendalami profesi di dunia penerbitan buku. Jam terbang yang sudah banyak tentu bisa memberikan wawasan yang lebih lengkap kepada peserta tentang penerbit mayor.
Dalam materinya beliau menyampaikan bahwa penulis dan penerbit telah dilindungi secara penuh sejak terbitnya UU no 3 Tahun 2017 yag diikuti oleh Peraturan Pemerintah 2 tahun kemudian yaitu PP No 75 tahun 2019.
Penulis bisa mulai membuat karya dengan berpedoman peraturan pemerintah diatas. Penulis akan makin diuntungkan dengan memahami kebijaksanaan, hak serta sejauh mana perlindungan terhadap hasil karyanya. Penulis bisa makin produktif dengan tetap mengikuti prosedur-prosedur perbitan.
Penerbit mayor umumnya memiliki kapasitas produksi yang besar. Namun dari hasil jumlah produksi, penerbit mayor terdapat dua jenis yakni penerbit mayor yang memiliki hasil produksi ratusan eksemplar buku dan penerbit yang mampu mencetak ribuan eksemplar buku. Penggolongan ini bersifat alamiah yang dapat dilihat dari pembagian ISBN yang dikeluarkan perpustakaan nasional.
Kapasitas produksi buku penerbit mayor dalam skala nasional. Sebelum masa pandemi, outlet toko mereka yang ada di beberapa wilayah Indonesia masih menjadi sarana pemasaran yang cukup efektif. Pencetakkan buku banyak untuk memenuhi kebutuhan buku pada outlet-outlet mereka.
Naskah yang masuk ke penerbit-penerbit mayor akan melalui seleksi yang ketat. Hal ini karena memang banyak naskah berkompetisi untuk bisa terbit. Pertimbangan lain adalah apakah naskah memiliki daya tarik sehingga ketika diproduksi dalam jumlah banyak bisa mendapatkan profit.
Penerbit mayor hampir tidak kekurangan naskah. Banyak penulis yang sudah menjadi kontributornya. Bahkan di masa pandemi naskah yang masuk tetap banyak. Penulis yang bekerja dari rumah memiliki lebih banyak waktu sehingga tetap bisa membuat artikel untuk dijadikan naskah buku. Penulis-penulis penerbit mayor umumnya adalah penulis profesional yang sudah memiliki kemampuan membuat artikel yang tinggi.
Masa pandemi buku bertema covid-19 sangat diminati. Penerbit buku mayor meminta para penulis yang dianggap mampu untuk membuat naskah membahas permasalahan COVID-19. Selain itu, buku yang sangat jarang ada penulisnya terdapat pada tema arsitektur. Penerbit Andi membuka kesempatan pada para peserta pelatihan untuk membidik tema itu karena peluangnya sangat besar dan seleksi naskah tidak banyak.
Penerbit lebih banyak mengalami kendala pada sisi penjualan. Pengetatan kegiatan masyarakat ke mall dan toko buku membuat permintaan buku menurun drastis mencapai 90%. PSBB di beberapa daerah, dengan otomatis Toko buku andalan penerbit yaitu Gramedia memarkirkan bisnisnya di sisi pit stop dan terhenti sama sekali. Dari omzet normal dan terhenti di pit stop menjadikan omzet terjun bebas hanya berkisar 80-90% penurunannya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penerbit memasarkan buku secara online dan naskah diterbitkan secara digital atau e book.

Komentar
Posting Komentar