KONSEP BUKU NON FIKSI
Tanggal pertemuan: 18 Agustus 2021
Manfaat menulis lainnya diantaranya bisa memecahkan masalah dengan lebih baik. Dengan menulis otak akan terbiasa bekerja. Otak akan lebih terpancing untuk berkreatifitas. Otak yang dibiasakan untuk menganalisa pada umumnya adalah otak kiri, sedangkan otak kanan digunakan untuk kreatifitas dan intuisi yang mampu untuk memecahkan permasalahan.
Melalui tulisan seseorang dapat menuangkan perasaan sesuai keinginan. Melalui tulisan kata-kata bisa dirangkai sedemikian rupa untuk meluapkan pikiran ataupun imajinasi. Menulis bisa memperbaiki suasana hati. Perantara Menulis bisa membuat mood seseorang lebih baik. Untuk mendapat manfaat maksimal tulisan, Om Jay guru blogger Indonesia menyarankan untuk menulis setiap hari.
Menulis bisa bermacam-macam bentuknya. Menulis dalam bentuk cerpen, novel, biografi, karya ilmiah, atau buku-buku pengetahuan umum lainnya. Sedangkan media menulis di era digital ini tidak hanya melalui kertas, platform digital seperti media sosial, blogger bisa menjadi alternatif yang baik untuk menulis.
Secara umum buku terbagi dua genre, yaitu buku fiksi dan non fiksi. Buku fiksi mengusung daya imajinasi penulis. Novel, cerpen, buku cerita, komik merupakan diantara produk-produknya. Sedangkan non fiksi adalah buku yang memuat naskah bersifat ilmiah, berdasarkan penalaran dan umumnya menggunakan data dan sumber referensi. Opini, memoar, jurnal, biografi, buku pedoman, karya tulis ilmiah (skripsi, tesis, disertasi) adalah beberapa contoh hasil karya non fiksi.
Mengenai penulisan buku non fiksi pelatihan menulis bersama PGRI menghadirkan narasumber yang berpengalaman. Beliau adalah Ibu Musiin, M. Pd. Pengalamannya di dunia literasi dibagikan khususnya mengenai penulisan buku non fiksi. Berikut rangkumannya:
Penulisan buku nonfiksi ada 3 pola yakni:
1. Pola Hierarkis (Buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari sederhana ke rumit)
Contoh: Buku Pelajaran
2. Pola Prosedural (Buku disusun berdasarkan urutan proses.
Contoh: Buku Panduan
3. Pola Klaster (Buku disusun secara poin per poin atau butir per butir. Pola ini diterapkan pada buku-buku kumpulan tulisan atau kumpulan bab yang dalam hal ini antar bab setara)
Menulis buku memiliki beberapa tahapan. Semua merupakan satu kesatuan yang sebaiknya dipahami. Adapun proses penulisan buku terdiri dari 5 langkah, yakni:
1. Pratulis
2. Menulis Draf
3. Merevisi Draf
4. Menyunting Naskah
5. Menerbitkan
Pratulis adalah proses pertama yang harus dilalui. Langkah ini setidaknya mengandung hak sebagai berikut:
1. Menentukan tema
2. Menemukan ide
3. Merencanakan jenis tulisan
4. Mengumpulkan bahan tulisan
5. Bertukar pikiran
6. Menyusun daftar
7. Meriset
8. Membuat Mind Mapping
9. Menyusun kerangka
Sebuah buku bisa ditentukan satu tema saja. Buku non fiksi memiliki beberapa tema yang bisa dipilih sesuai minat. Mulai dari tema parenting, pendidikan, motivasi dll.
Seorang penulis bisa mengambil tema yang menarik berdasarkan menjadi sebuah ide yang menarik berdasarkan pengalaman pribadi maupun orang lain, bersumber dari berita di media massa, media sosial seperti status Facebook/Twitter/Whatsapp/Instagram, imajinasi, pengamatan lingkungan sekitar, perenungan dan membaca buku. Selain itu pengalaman atau pengetahuan yang diperoleh secara formal , nonformal dan informal seseorang juga mampu meningkatkan daya pikir untuk memunculkan ide.
Sebuah channel youtube milik Pak Yulius Roma Patandean bisa menjadi rujukan mengenai sistematika pernulisan. Channelnya sebagai berikut: KLIK DI SINI
Sebuah buku memiliki ketentuan yang harus diikuti oleh penulis. Hal tersebut bersifat wajib dan ada juga pilihan agar makin sempurna. Ketentuan-ketentuan itu selanjutnya disebut anatomi. Adapun anatomi sebuah buku non-fiksi sebagai berikut:
1. Halaman Judul
2. Halaman Persembahan (OPSIONAL)
3. Halaman Daftar Isi
4. Halaman Kata Pengantar (OPSIONAL, minta kepada tokoh yang berpengaruh)
5. Halaman Prakata
6. Halaman Ucapan Terima Kasih (OPSIONAL)
7. Bagian /Bab
8. Halaman Lampiran (OPSIONAL)
9. Halaman Glosarium
10. Halaman Daftar Pustaka
11. Halaman Indeks
12. Halaman Tentang Penulis
Anatomi buku biasanya menjadi perhatian saat penulis mengikuti ujian sertifikasi penulis.
Langkah kedua adalah menulis Draf.
1. Menuangkan konsep tulisan ke tulisan dengan prinsip bebas
2. Tidak mementingkan kesempurnaan, tetapi lebih pada bagaimana ide dituliska
Langkah ketiga Merevisi Draf
1. Merevisi sistematika/struktur tulisan dan penyajian
2. Memeriksa gambaran besar dari naskah.
Langkah keempat
Menyunting naskah (KBBI dan PUEBI)
1. Ejaan
2. Tata bahasa
3. Diksi
4. Data dan fakta
5. Legalitas dan norma
KBBI online sangat membantu penulis dalam menyunting naskah.
Langkah kelima atau terakhir adalah MENERBITKAN.
Menulis memang lerlu latihan. Hambatan-hambatan dalam menulis diantaranya:
1. Hambatan waktu
2. Hambatan kreativitas
3. Hambatan teknis
4. Hambatan tujuan
5. Hambatan psikologis
Solusi untuk mengatasi hamabat menulis diantaranya dengan banyak membaca, mencari inspirasi di lingkungan sekitar, orang sekitar, latihan menulis setiap hari, dan juga melakukan hobi sesaat untuk merilekskan pikiran.
Pada kesempatan tersebut, bu Iin panggilan akrab beliau memberikan kata yang mampu membakar motivasi.
"Tiap kesempatan yang diambil adalah sebuah kesempatan untuk menang.
Kesempatan yang kecil seringkali merupakan permulaan kepada usaha yang besar.
Ksempatan menulis ini adalah luar biasa. TAKE IT OR LEAVE IT."

Komentar
Posting Komentar